Sabtu, 14 November 2015

Lima Ilmuwan Islam yang Berpengaruh dalam Perkembangan Ilmu Geografi (Part 1)



         

          Banyak pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh di dunia yang menjadi inspiratif terhadap perkembangan ilmu-ilmu yang akan muncul kemudian. Perkembangan peradaban Islam yang sangat maju saat itu berbanding lurus bagi ilmu pengetahuan khususnya untuk kawasan timur tengah dan sekitarnya. Akibatnya secara alami banyak memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang terkemuka di dunia. Bahkan hasil temuan-temuan dari ilmuwan muslim ini mampu memberikan kontribusi sangat luar biasa terhadap perkembangan ilmu pada kemudian hari. Hasil temuan dari ilmuwan muslim ini akan disempurnakan oleh ilmuwan-ilmuwan dari barat seperti yang kita kenal saat ini.
          Ilmuwan-ilmuwan ini tidak hanya ahli dalam satu bidang saja tapi mampu menghasilkan karya-karya dari berbagai bidang ilmu lainnya. Dalam Blog ini akan menjelasakan secara singkat lima ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Geografi kedepannya. Sebenarnya sangat banyak tokoh-tokoh muslim yang mempunyai jasa terhadap perkembangan Ilmu Geografi tapi saya akan mempersempit tokoh-tokoh tersebut menjadi hanya lima saja. Berikut Lima Ilmuwan atau tokoh Muslim yang berpengaruh dalam Perkembangan Ilmu Geografi Dunia :

1. Al-Kindi
          Al-Kindi atau Abu Yusuf Ya’qub Ibn ‘Ishaq as-Sabbah al-Kindi merupakan filsuf pertama yang muncul dari kalangan muslim. Beliau dikenal sebagai “Bapak filsafat dari Islam atau Arab” yang juga merupakan seorag ahli mateatika dan astronomi. Banyak karya dalam berbagai disiplin imu dari meatfisika, etika, logika dan psikologi, ghingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optic, juga meliputi topic praktis seperti parfum, pedang, zoology, kaca, meteorology dan gempa bumi.
          Al-Kindi lahir di 801 M di Basra, Irak. Dia berasal dari Suku Kinda. Ayahnya adalah seorang gubernur sehingga memudahkan bagi Al-Kindi untuk kebutuhan-kebutuhan untuk mendalami ilmunya. Saat tumbuh dewasa, ia pergi ke Baghdad untuk melanjutkan studinya.
Gambar 1. Ilustrasi dari cover buku Tony Abboud
          Diketahui ada delapan karya buku yang ia tulis tentang masalah astronomi. Tapi sayang ada kemungkinan buku karya lainnya yang berhubungan dengan astronomi telah hilang. Karya-karyanya ini berisikan tentang pergerakan planet-planet, cahaya bintang, pergerakan revolusi, dan spiritual planet.
          Bedasarkan karya-karya yang ada, Al-Kindi adalah pengikut dari paham Ptolemy. Berarti ia melihat tata sugrya dari sudut pandang bahwa bumi itu berada di pusat berbagai planet dan bintang. Ia mengatakan bahwa Pergerakan planet-planet ini karena adanya kehendak dari Allah SWT. Al-Kindi membuktikan secara empiris bahwa musim yang berbeda dari hasil pengaturan dan pergerakan planet dan bintang (terutama matahari). Al-Kindi juga menyelidiki bagaimana benda langit berkontribusi terhadap ciri elemen (tanah, angin, api, dan udara) dari bumi.
Gambar 2. Ilustrasi rupa Al-Kindi saat menulis
          Beberapa beberapa contoh karya-karya dalam bidang Astronomi yang dibuat oleh Al-Kindi :

  • Menulis buku yang di dalamnya memberikan keterangan tentang bagian bumi yang berpenghuni. Selain itu, menjelaskan tentang keadaan alam dan bentuk permukaan bumi dari berbagai negeri yang biasa dikunjungi oleh saudagar Islam. 
  • The Book of the Judgement of the Stars. 
  • On the Stellar Rays 
  • Beberapa surat cuaca dan meteorology, De Mutatione Temporum “On the Changing of the Weather”.
          Al-Kindi meninggal di Baghdad, Irak, pada tahun 873 M. Ia berusia 72 tahun pada saat kematiannya. Dia meninggalkan dunia dengan warisan atau bekerja dan contributins karena ia adalah seorang tokoh besar yang membantu menyebarkan filsafat Yunani dan teori-teori astronomi di seluruh dunia Islam dan seterusnya.

2. Muhammad Al-Idrisi
          Muhammad Al-Idrisi Al-Qurtubi Al-Hasani Al-Sabti merupakan seorang muslim sekaligus pakar Geogragfi, Kartograper dan  penngembara yang tingggal di Palermo, Sicilia dalam istana raja Roger II kerajaan Sicily Italia Selatan. Muhammad Al-Idrisi lahir di Ceuta Maroko-Andalus pada tahun 1100 dan meninggal pada tahun 1165. Dikutip dari Wikipedia bahwa Al-Idrisi merupakan keturunan Hasan bin Ali sekaligus cucu dari Nabi Muhammad SAW.
Gambar 3. Patung Muhammad Al-Idrisi di Ceuta (sekarang wilayah Spanyol)
          Tabula Rogeriana merupakan nama peta dunia kuno paling modern yang pertama kali di gambar oleh Al-Idrisi untuk Raja Roger II di Sicilia pada tahun 1154. Peta ini selesai setelah beliau tinggal di istana selama belasan tahun dan dikerjakan dari hasil komentar-komentar para pengembara lainnya. Peta kuno ini ditulis dalam bahasa Arab dan telah menggambarkan benua Eurasia secara keseluruhan termasuk Afrika bagian utara walaupun tidak membentuk rincian Asia Tenggara dan Benua Afrika.
Gambar 4. Tabula Rogeriana buatan Al-Idrisi

          Buku yang berjudul nuzhat al-mushtaq fi'khtiraq al-'afaq di buat oleh Al-Idrisi berisikan tentang informasi geografis yang sangat berguna dalam mengarungi lautan luas. Bukunya memuat tentang penjelasan dunia, menyempurnakan pembagian lima daerah iklim bumi menurut konsep Yunani kuno, membuat model bola langit, dan sebuah model dunia. Diketahui ada sembilan manuscripts dan tujuh diantaranya berupa peta. Al-Idrisi menjadi inspirasi kepada ilmuwan pakar geografi lainnya seperti Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, dan Piri Reis.
Gambar 5. Peta Samudera Hindia buatan Al-Idris pada abad ke-12
          Buku Nuzhat al-Mushtaq ini sering dipakai oleh pra-Columbus untuk mengarungi Lautan kabut Samudera Atlantik. Abdullah bin Umar atau Raqsh Al-Auzz telah mencoba untuk mengarungi Samudera ini walaupun gagal. Ada seorang Mugharrarin atau sang petualang yang menceritakan bahwa ia telah berhasil menembus Samudera Atlantik dan berhasil mendarat dalam suatu pulau disana. Sang Mugharrrin mendarat di sebuah pulau yang mana desa tersebut mampu berbasa Arab (diperkirakan karena sudah adanya pengaruh dari Maroko dan Andalusia).
Gambar 6. Catatan Al-Idrisi yang menjelasakan negeri di utara yaitu Finlandia
          Al-Idrisi mencatat bahwa ada delapan Mugharrarin yang berlayar dari Lisbon telah mampu berhasil menembus lautan kabut Atlantik. Informasi-informasi tentang Samuder Atlantik ini digunakan kedepannya untuk menggarungi Atlantik dengan pasti oleh Columbus maupun Vasco da Gama yang mengarungi Tanjung Harapan.

SELANJUTNYA [Lima Ilmuwan Islam yang Berpengaruh dalam Perkembangan Ilmu Geografi (Part 2)]

1 komentar: